Beranda / Artikel / Kesehatan Gigi
🦷 Kesehatan Gigi 22 September 2026 • 3 Menit Baca

Gigi Anak Patah atau Retak Setelah Jatuh, Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua

Gigi Anak Patah atau Retak Setelah Jatuh, Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua

Dunia anak-anak adalah dunia yang penuh dengan aktivitas fisik. Berlari, melompat, atau bermain sepeda adalah bagian dari proses tumbuh kembang mereka. Namun, di balik keceriaan tersebut, risiko kecelakaan seperti terjatuh atau terbentur selalu ada.


Jika anak terjatuh dan mengalami luka gores di lutut, Anda mungkin sudah tahu persis cara membersihkan dan membalutnya. Namun, bagaimana jika insiden tersebut menyebabkan gigi anak retak, patah, atau bahkan terlepas dari gusinya? Trauma gigi membutuhkan pendekatan pertolongan pertama yang sangat berbeda dari trauma cedera bermain pada umumnya.


Berikut adalah panduan krusial yang harus dilakukan orang tua saat menghadapi situasi darurat trauma gigi pada anak :

1. Tetap Tenang dan Evaluasi Kondisi Anak

Hal pertama dan paling penting adalah jangan panik. Kepanikan Anda akan membuat anak semakin histeris. Tenangkan si kecil dan segera periksa kondisi mulutnya. Pastikan tidak ada cedera lain yang lebih serius, seperti benturan keras di kepala atau rahang yang menyulitkan anak untuk bernapas atau berbicara.

Bersihkan area mulut yang berdarah secara perlahan menggunakan kain kasa steril atau kain bersih yang dibasahi air hangat.

2. Temukan dan Simpan Patahan Gigi

Ini adalah langkah pertolongan pertama yang paling membedakan cedera gigi dengan cedera lainnya. Jika gigi anak patah atau terlepas seutuhnya, segera cari patahan tersebut.

  1. Pegang bagian mahkotanya (bagian atas gigi yang putih), bukan bagian akarnya.
  2. Jangan menggosok atau membersihkan akar gigi dengan sabun atau bahan kimia apa pun. Cukup bilas perlahan dengan air bersih jika kotor.
  3. Cara Menyimpan: Segera masukkan patahan gigi ke dalam wadah berisi susu murni (bukan susu bubuk atau kental manis) atau larutan saline (cairan infus). Susu memiliki tingkat keasaman (pH) dan protein yang dapat menjaga sel-sel akar gigi tetap hidup. Jika tidak ada susu, biarkan anak meludah ke dalam wadah dan rendam gigi tersebut dalam air liurnya sendiri. Jangan merendamnya di dalam air mineral biasa karena dapat merusak sel gigi.

3. Tangani Pendarahan dan Pembengkakan

Sambil mengamankan gigi, mintalah anak untuk menggigit pelan kain kasa steril atau kantong teh basah di area gusi yang berdarah selama 10-15 menit. Tekanan ringan ini akan membantu menghentikan pendarahan.

Untuk mencegah atau mengurangi pembengkakan di wajah, tempelkan kompres dingin (es yang dibungkus handuk) pada bagian luar pipi atau bibir di area yang terbentur.

4. Perbedaan Penanganan Gigi Susu dan Gigi Permanen

Penting untuk mengetahui apakah gigi yang patah adalah gigi susu atau gigi permanen.

  1. Jika itu Gigi Susu: Dokter gigi umumnya tidak akan menanam kembali (reimplantasi) gigi susu yang copot karena tindakan tersebut berisiko merusak benih gigi permanen yang berada di bawah gusi. Namun, anak tetap harus diperiksa untuk memastikan tidak ada sisa akar yang tertinggal atau kerusakan pada gusi.
  2. Jika itu Gigi Permanen: Waktu adalah kunci. Jika Anda bisa membawa anak beserta patahan giginya ke dokter gigi dalam kurun waktu kurang dari 1 jam, persentase keberhasilan dokter untuk menyambung atau menanam kembali gigi tersebut sangatlah tinggi.

5. Segera Menuju ke Dokter Gigi Terdekat

Trauma gigi adalah kondisi darurat medis. Jangan menunggu berhari-hari untuk melihat perkembangannya. Meskipun gigi hanya terlihat retak kecil dan anak tidak mengeluh sakit, benturan keras bisa merusak pembuluh darah dan saraf di dalam gigi yang dapat memicu infeksi atau gigi mati (berubah warna menjadi hitam) di kemudian hari.

Membekali diri dengan pengetahuan pertolongan pertama trauma gigi akan membantu Anda bertindak cepat, tepat, dan menyelamatkan senyum berharga si kecil saat insiden tak terduga terjadi.